Pages

Kamis, 29 November 2012

Sejuta Pesan Rindu Sahabat

Kau datangi aku seperti biasa
Ku sambut  bahagia dengan tangan terbuka
Kau balas dengan senyum seadanya
Ku tau ada sesuatu yang berbeda
   Kau hanya diam seribu bahasa
   Dengan matamu yang coba berbicara
   Bahwa saat ini hatimu terluka
   Kau tahu ku ada di sini untukmu
Coba berbagi menahan tegar diujng mata
Kini kau pun tak kuasa
Berderailah airmata
Dalam pelukku kau curahkan semua
   Menangislah
   Kadang manusia terlalu sombong untuk menangis
   Lalu untuk apa airmata telah di cipta
   Bukan hanya bahagia yang ada di dunia
Menangislah di bahuku
Kau berikanku kepercayaan
Bahwa laramu adalah haru biruku
Karena aku adalah sahabatmu




Langit tampak mulai mendung, menunjukkan kekelaman. Ia rindu akan hadirnya seorang sahabat. Di utusnya tetesan hujan untuk menyampaikan sejuta pesan rindu pada sang bumi. Hujan pun menurut disampaikannya pesan rindu pada sang bumi. Bumi menerimanya dengan senang hati. Melihat itu, langit bersorak girang dengan halilintarnya. Beberapa saat lama kemudian ia kembali mengutus lebih banyak lagi air hujan untuk menyampaikan salamnya. Bumi yang pemalu hanya bisa menerima pesan dengan senang hati. Kali ini langit mengungkapkan rasa senangnya dengan senandung angin. Kini, hujan telah reda. Semua salam langit telah diterima oleh bumi. Langit pun kembali cerah seperti sedia kala dengan mentari langit senja, iapun tersenyum pada sahabatnya (bumi) seolah mengisyaratkan walau jauh akan tetapi ukhwah tetap terjaga ^^



Malam memancarkan auranya
Menyelimuti dengan dinginnya yang menusuk
Namun, ia tetap menyapa dengan santun
Bersama para bintang dan bulan yang terlihat kian menggodaku untuk menikmati pertunjukan kali ini
Suguhan keheningan mengajakku terus bercumbu dengannya
Malam mendayu-dayu menggandengku agar tetap mnemaninya,
Namun, sayang kedua mataku telah mengisyaratkan kelelahan
Ia ajak diriku melepas lelah
Ajakannya, di bisikkanya perlahan agar malam tuk mendengar
Lantunan doa ku bisikkan di saat malam tengah lengah
Saat aku telah tertidur, malam pun tak sadar bahwa kini ku tengah bercumbu dengan mimpi tidurku



Tidak ada komentar:

Posting Komentar